Pidato Presiden Joko Widodo pada Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, 20 Oktober 2014
“Rekonsiliasi pasca-pemilu melalui persatuan.
Fokus pada kerja nyata dan kehadiran negara untuk rakyat.
Revitalisasi kemandirian ekonomi dan identitas maritim Indonesia.
Pemerintahan yang melibatkan seluruh rakyat dalam semangat gotong royong.”
Pidato ini menandai dimulainya pemerintahan Jokowi-JK dengan semangat persatuan dan kerja keras untuk mewujudkan cita-cita Indonesia yang besar. Berikut adalah poin-poin utamanya:
1. Seruan untuk Persatuan dan Gotong Royong
Jokowi menekankan bahwa setelah proses demokrasi yang mungkin menimbulkan perbedaan, saatnya untuk menyatukan hati dan tangan. Persatuan, gotong royong, dan kerja keras disebut sebagai kunci untuk memikul tugas sejarah yang berat. Ia menegaskan bahwa bangsa tidak akan besar jika terpecah-belah.
2. Tiga Pilar Visi Pemerintahan: Trisakti Bung Karno
Pemerintahan Jokowi berkomitmen untuk mewujudkan tiga tujuan utama (mengutip konsep Trisakti Bung Karno):
2.1. Indonesia yang berdaulat di bidang politik.
2.2. Indonesia yang berdikari (mandiri) di bidang ekonomi.
2.3. Indonesia yang berkepribadian dalam kebudayaan.
3. Komitmen untuk Kehadiran Negara dan Kerja Keras
Jokowi berjanji bahwa pemerintahannya akan memastikan kehadiran negara dalam memberikan pelayanan hingga ke pelosok tanah air. Ia mengajak semua elemen bangsa, dari nelayan, buruh, petani, hingga profesional, untuk bekerja keras bahu-membahu. Pesan “bekerja, bekerja, dan bekerja” menjadi slogan sentral pidato ini.
4. Kembali Menjadi Negara Maritim yang Berdaulat
Poin penting lainnya adalah komitmen untuk mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai negara maritim. Jokowi menyatakan bahwa Indonesia telah terlalu lama “membelakangi laut”. Kini saatnya menjadikan samudera, laut, selat, dan teluk sebagai masa depan peradaban bangsa, dengan mengembalikan semboyan Jalesveva Jayamahe (di laut kita jaya).
5. Politik Luar Negeri Bebas-Aktif dan Penghargaan
Jokowi menegaskan bahwa Indonesia akan terus menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif yang diabdikan untuk kepentingan nasional. Ia juga menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada pemerintahan sebelumnya yang dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono.
6. Metafora Perjalanan Bahtera
Mengakhiri pidato, Jokowi menggunakan metafora yang kuat. Sebagai “nahkoda” yang dipercaya rakyat, ia mengajak seluruh warga bangsa untuk naik ke atas Kapal Republik Indonesia dan berlayar bersama menuju Indonesia Raya, berani menghadapi badai dan gelombang dengan kekuatan sendiri.
Kesimpulan Utama
Pidato ini merupakan deklarasi visi dan semangat pemerintahan baru Jokowi-JK. Inti pesannya adalah:
- Rekonsiliasi pasca-pemilu melalui persatuan.
- Fokus pada kerja nyata dan kehadiran negara untuk rakyat.
- Revitalisasi kemandirian ekonomi dan identitas maritim Indonesia.
- Pemerintahan yang melibatkan seluruh rakyat dalam semangat gotong royong.
Barakallah fiikum.





