Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), 20 Oktober 2004, dalam rangka Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI Terpilih Periode 2004-2009
“Dengan dada yang lapang dan keyakinan yang bulat, hari ini kita membuka lembaran baru dalam sejarah bangsa Indonesia. Kinilah masanya kita menyongsong fajar !”
Pidato ini menandai momen bersejarah: pelantikan presiden pertama hasil pemilihan langsung oleh rakyat. SBY menyampaikan pidato dengan nada bijak, optimis, dan penuh kesadaran akan tanggung jawab besar yang diembannya. Pidato berfokus pada penegasan demokrasi, pengakuan tantangan, dan ajakan untuk bersatu bekerja keras.
1. Penghargaan atas Proses Demokratis yang Sukses
SBY menekankan keberhasilan bangsa Indonesia melaksanakan “maraton pemilu” yang kompleks secara damai, demokratis, dan konstitusional. Ini adalah bukti kedewasaan bangsa dalam berdemokrasi dan menjadi “tauladan bagi komunitas demokrasi dunia”. Ia juga menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada Presiden Megawati Soekarnoputri dan Wakil Presiden Hamzah Haz atas jasa-jasanya.
2. Transisi dari Masa Kampanye ke Masa Kerja
Pidato ini menandai peralihan fase:
- “Masa bersaing telah kita lalui, kini masanya untuk bersatu.”
- “Masa berucap dan berjanji pun telah kita lalui, kini masanya bertindak dan bekerja.”
SBY menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan bisa bekerja tanpa dukungan dan partisipasi seluruh rakyat dan komponen bangsa.
3. Pengakuan Jujur atas Tantangan Berat yang Dihadapi
SBY secara spesifik dan realistis memaparkan berbagai masalah besar yang harus diatasi:
- Ekonomi: Pertumbuhan di bawah 5%, pengangguran (>10 juta), kemiskinan (16% penduduk), dan beban hutang.
- Keamanan: Situasi di Aceh, Papua, Poso, dan Maluku yang belum pulih sepenuhnya, serta ancaman terorisme.
- Good Governance: KKN yang masih menjadi persoalan sistemik.
- Eksternal: Situasi internasional yang tidak menentu dan harga minyak yang melambung.
4. Rencana Aksi dan Prioritas Pemerintahan
SBY mengumumkan akan segera melantik kabinet dan merumuskan langkah-langkah awal. Prioritas kebijakan yang disebutkan antara lain:
- Stimulasi ekonomi untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi dan membuka lapangan kerja.
- Program pemberantasan korupsi yang akan dipimpinnya sendiri.
- Perhatian khusus pada penanganan konflik di Aceh dan Papua.
- Penataan kebijakan di bidang pendidikan dan kesehatan.
- Pembangunan infrastruktur dan iklim investasi.
- Peningkatan pelayanan melalui desentralisasi dan otonomi daerah.
- Pembentukan pemerintahan yang bersih dan baik (good governance).
5. Komitmen sebagai “Presiden Seluruh Rakyat”
Sebagai presiden terpilih langsung, SBY menegaskan komitmennya:
- “Saya bertekad bukan saja untuk menjadi Presiden Republik Indonesia, namun juga menjadi Presiden Rakyat Indonesia, seluruh rakyat Indonesia.”
- Ia menyatakan diri sebagai “warga biasa” yang akan mendedikasikan pikiran, tenaga, dan waktunya untuk memajukan dan melindungi setiap insan Indonesia.
- Komitmen untuk menjaga “kontrak politik yang mulia dengan rakyat”.
6. Seruan untuk Bersatu dan Kerja Keras
SBY mengajak semua pihak, termasuk DPR/DPD, aparatur sipil negara (ASN), TNI, dan Polri, untuk menyongsong pemerintahan baru dengan semangat baru dan pengabdian yang meningkat. Ia menegaskan bahwa tantangan berat tidak akan diselesaikan dalam “100 hari”, tetapi dengan tekad, kebersamaan, dan kerja keras, bangsa Indonesia akan mampu mewujudkan kondisi yang lebih aman, adil, dan sejahtera.
Kesimpulan Utama
Pidato pelantikan SBY ini merupakan:
- Sebuah deklarasi kedewasaan demokrasi Indonesia yang berhasil melakukan transisi kekuasaan secara damai dan langsung.
- Pidato yang realistis dengan tidak mengabaikan kompleksitas masalah yang dihadapi bangsa.
- Sebuah janji pemerintahan yang bekerja (“kini masanya bertindak”) dengan fokus pada pembangunan ekonomi, pemberantasan korupsi, dan penyelesaian konflik.
- Sebuah ajakan rekonsiliasi dan persatuan pasca proses pemilihan yang kompetitif, untuk bersama-sama menjemput masa depan yang lebih baik.
Barakallah fiikum.





