Pidato Kepresidenan Pertama K.H. Abdurrahman Wahid Di Depan Sidang MPR RI, 20 Oktober 1999
“Pemerintah pada dasarnya harus memberikan pertanggungjawaban yang jujur pada rakyat, bukan yang membohongi mereka !.”

Pidato Gus Dur ini sangat berbeda dalam gaya dan substansi, mencerminkan kepribadiannya yang intelektual, religius, dan rendah hati. Pidato ini disampaikan dengan nada yang sangat serius dan reflektif, lebih menekankan pada beban tugas daripada euforia kemenangan.
1. Penekanan pada Beban Tugas yang Maha Berat
Dari awal, Gus Dur terus menekankan bahwa jabatan presiden adalah “beban yang sangat berat” dan “tugas yang maha berat”. Ia tidak banyak berbicara tentang kemenangan, tetapi lebih pada tanggung jawab besar yang harus dipikulnya dan seluruh bangsa untuk memasuki alam modern.
2. Komitmen pada Prinsip Ekonomi dan Kedaulatan Bangsa
Gus Dur menegaskan komitmen Indonesia untuk:
- Tetap berada dalam lingkup perdagangan internasional yang bebas.
- Menggunakan prinsip efisiensi, akal, dan budi daya untuk mematangkan kehidupan bangsa.
- Menolak penilaian dan intervensi dari negara lain yang merendahkan harga diri bangsa.
- Mempertahankan keutuhan wilayah dan kedaulatan dengan segala upaya.
3. Seruan untuk Persatuan dan Penghargaan atas Proses Demokrasi
Gus Dur secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Megawati Soekarnoputri yang telah menunjukkan pengertian yang mendalam. Ini adalah pesan rekonsiliasi yang crucial setelah proses pemilihan presiden yang alot di MPR. Ia menegaskan bahwa hal itu adalah bukti kemampuan bangsa dalam menjalankan kehidupan berdemokrasi.
4. Fondasi Negara yang Demokratis dan Akuntabel
Gus Dur menyampaikan prinsip-prinsip dasar pemerintahan yang diyakininya:
- Demokrasi sebagai sendi kehidupan, yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang mengerti hakikatnya.
- Penegakan kedaulatan hukum, kebebasan berbicara, dan persamaan hak bagi semua warga tanpa diskriminasi.
- Pemerintah harus bertanggung jawab yang jujur kepada rakyat, bukan membohongi mereka. (Pernyataan ini sangat kuat dan relevan dengan konteks reformasi).
5. Sikap Rendah Hati dan Permintaan Bimbingan
Di akhir pidato, Gus Dur menunjukkan kerendahan hatinya. Ia menyatakan tidak ingin berpidato panjang karena khawatir akan banyak hal yang harus dipertanggungjawabkan. Yang paling mencolok, ia mengutip sabda Rasulullah SAW: “Al-Insan Ahallu Khoto Wa Nisyan” (Manusia adalah tempatnya keluputan dan kelupaan). Karena itu, ia meminta agar dibimbing oleh MPR dalam menjalankan tugasnya selama lima tahun ke depan.
Kesimpulan Utama
Pidato pelantikan Gus Dur adalah:
- Sebuah pengakuan yang jujur dan rendah hati tentang betapa beratnya tantangan yang dihadapi bangsa pasca-Reformasi 1998.
- Pernyataan visi tentang demokrasi substantif yang inklusif, egaliter, dan akuntabel.
- Sebuah pidato yang lebih filosofis dan reflektif, berbeda dengan pidato-pidato pelantikan presiden pada umumnya yang lebih retoris dan penuh janji.
- Cerminan dari kepribadian Gus Dur sebagai seorang ulama-intelektual yang memandang kepemimpinan sebagai amanah dan pengabdian, bukan sekadar kekuasaan.
Pidato ini mengatur nada untuk pemerintahan yang singkat namun sangat penting dalam mengkonsolidasikan demokrasi Indonesia di masa transisi yang kritis.
Barakallah fiikum.





