Ringkasan Pidato Presiden B.J. Habibie pada Pelantikannya Menjadi Presiden Republik Indonesia, 21 Mei 1998, Menggantikan Presiden Soeharto yang Mengundurkan Diri Pasca Kerusuhan Mei 1998
“Dengan pertolongan Allah, kami akan lanjutkan reformasi, tegakkan hukum dan HAM, serta segera selenggarakan Pemilu yang luber dan jurdil. Kepada rakyat, saya mohonkan kepercayaan dan doa restunya!”
Konteks Historis:
Pidato ini disampaikan dalam situasi yang sangat genting pasca pengunduran diri Presiden Soeharto dan kerusuhan Mei 1998. Indonesia sedang dilanda krisis moneter, ekonomi, politik, dan kepercayaan yang parah.
Poin-Poin Utama dan Semangat Pidato:
1. Penekanan pada Kelanjutan Reformasi:
Habibie menyatakan bahwa pemerintahannya adalah kelanjutan dari Orde Reformasi yang telah digagas oleh Presiden Soeharto. Ia menegaskan komitmennya untuk melaksanakan agenda reformasi secara konsisten.
2. Komitmen terhadap Demokrasi dan Supremasi Hukum:
- Beliau berjanji akan menegakkan supremasi hukum dan menghormati Hak Asasi Manusia (HAM).
- Janji untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam politik dan memberikan ruang kebebasan yang lebih luas, termasuk kebebasan pers dan kebebasan berpendapat.
3. Penyelesaian Krisis Ekonomi:
Habibie menyadari betapa dalamnya krisis ekonomi yang melanda. Pidato ini berisi komitmen untuk:
- Memulihkan kepercayaan internasional terhadap Indonesia.
- Bekerja sama dengan lembaga-lembaga internasional seperti IMF untuk menstabilkan perekonomian.
- Melaksanakan program-program ekonomi yang bertujuan untuk meringankan beban rakyat kecil.
4. Penyelenggaraan Pemilu yang Luber dan Jurdil:
Salah satu janji paling konkret dan bersejarah dalam pidato ini adalah komitmen untuk menyelenggarakan Pemilu yang demokratis secepat mungkin. Habibie berjanji akan mengadakan pemilu yang “Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur, dan Adil” (Luber dan Jurdil). Pemilu ini akan dilaksanakan paling lambat Juni 1999.
5. Pesan Rekonsiliasi dan Persatuan:
Mengingat situasi negara yang memanas, Habibie menyerukan persatuan dan kesatuan bangsa. Ia meminta semua pihak untuk menghindari kekerasan dan bekerja sama untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih baik.
6. Nada Kerendahan Hati:
Berbeda dengan gaya pidato presiden sebelumnya, Habibie menyampaikan pidato dengan nada yang lebih rendah hati. Ia memohon dukungan dan doa dari seluruh rakyat Indonesia untuk dapat menjalankan tugas berat yang diembannya.
Makna dan Dampak Historis:
Pidato ini menjadi fondasi transisi demokrasi Indonesia. Janji-janji yang disampaikan oleh Habibie, terutama tentang penyelenggaraan pemilu yang demokratis dan kebebasan berpendapat, akan diwujudkan dalam waktu singkat. Masa pemerintahannya akan menjadi periode kritis yang membuka jalan bagi reformasi di segala bidang.
Barakallah fiikum.





