Subscribe News Feed Subscribe Comments

Gerakan Islam 1984-1989, Zamanku Kuliah di UGM, Yogyakarta

January 17, 1990 by airianto  

“Suasana Gelanggang Mahasiswa Bulaksumur kala itu terasa sangat khas: riuh dengan diskusi, aroma buku-buku terbitan baru, dan aura perlawanan intelektual yang sunyi namun tajam di bawah bayang-bayang kebijakan NKK/BKK.”

Pada rentang tahun 1984–1989 saya kuliah di Jurusan Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Di luar perkuliahan saya banyak berinteraksi dengan kawan-kawan di Keluarga Mahasiswa Teknik Geodesi KMTG), di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), di Kepengurusan Mushalla Sendowo Yogyakarta di Lingkungan tempat kost. Karena aktifitas saya di HMI sehingga mendorong saya untuk menjadi Ketua KMTG periode 1986-1988 melalui jalur pemilihan di kampus Teknik Geodesi.

Gerakan Islam tingkat universitas di UGM berpusat di Gelanggang Mahasiswa UGM  dan Jama’ah Shalahuddin (JS), dengan dinamika yang diwarnai oleh kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK/BKK), pengaderan eksternal seperti HMI dan PII, serta interaksi kultural seperti gerakan “Lautan Jilbab” bersama [Emha Ainun Nadjib]

Pusat Gerakan Tingkat Universitas

  1. Jama’ah Shalahuddin (JS UGM): Berstatus sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tingkat universitas yang mewadahi kerohanian Islam. Pada periode 1980-an, JS menjadi melting point dakwah kampus yang independen secara struktural dari dewan mahasiswa yang dibubarkan, namun para aktivisnya banyak beririsan dengan jaringan eksternal seperti HMI, Pelajar Islam Indonesia (PII), serta asupan ide pemikiran Islam dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).
  2. Gelanggang Mahasiswa Bulaksumur: Menjadi basis sekretariat bersama tempat bertemunya para aktivis kerohanian Islam universitas, kelompok diskusi studi Islam, dan pimpinan lembaga kemahasiswaan tingkat universitas lainnya setelah tradisi senat/dewan mahasiswa ditiadakan dan diganti perwakilan bernuansa ko-kurikuler.

Karakteristik & Tokoh yang Berperan

  • Corak Intelektual dan Kultural: Aktivisme Islam di tingkat universitas pada masa itu tidak lagi murni berporos pada agitasi politik praktis ala Dema 1970-an, melainkan bergeser ke arah penguatan kajian keislaman, buletin kampus, diskusi bedah buku, dan pelopor simbol keagamaan (seperti kampanye jilbab gelombang awal di kampus sekitar 1985–1988).
  • Aktor dan Jaringan: Tokoh-tokoh penggerak di tingkat universitas umumnya digawangi oleh kader senior Jama’ah Shalahuddin dan simpul-simpul HMI tingkat universitas (karena pada masa itu irisan anggota HMI dan aktivis masjid kampus atau JS sangat kuat secara kultural). Tokoh seniman/budayawan seperti [Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)] juga sering hadir di Gelanggang maupun simpul-simpul kebudayaan UGM untuk membina orientasi pemikiran alternatif mahasiswa Islam saat itu.

Suasana [Gelanggang Mahasiswa Bulaksumur] kala itu terasa sangat khas: riuh dengan diskusi, aroma buku-buku terbitan baru, dan aura perlawanan intelektual yang sunyi namun tajam di bawah bayang-bayang kebijakan NKK/BKK. Di sinilah [Jama'ah Shalahuddin] (JS UGM) berdiri sebagai satu-satunya jangkar dakwah Islam tingkat universitas.

Pada periode 1986–1988, kepemimpinan di tingkat Gelanggang (khususnya JS) diisi oleh mahasiswa angkatan akhir ‘81 hingga angkatan ‘84/’85. Di level universitas ini, aktor-aktornya tidak sehomogen di tingkat fakultas. Terjadi persilangan faksi yang dinamis:

Berikut adalah fragmen memori mengenai para aktor, dinamika, dan kelompok yang “bermain” di tingkat universitas (Gelanggang) pada periode 1984-1989:

1. Elit Penggerak dan Konstelasi Jaringan di Gelanggang

  • Gerbong HMI (Himpunan Mahasiswa Islam): HMI saat itu sedang mengalami pembelahan besar akibat isu Asas Tunggal Pancasila (terpecah menjadi HMI Dipo dan HMI MPO). Di Gelanggang UGM, anak-anak HMI (terutama faksi MPO yang sangat kritis terhadap Orde Baru) memegang peranan krusial dalam menyuplai analisis wacana politik dan ideologi ke dalam tubuh Jama’ah Shalahuddin.
  • Jaringan PII (Pelajar Islam Indonesia) & DDII (Dewan Dakwah): Jika HMI kuat di pemikiran struktural dan politik, mantan aktivis PII yang masuk UGM berkolaborasi dengan alumni DDII untuk memperkuat sisi metodologi dakwah, pelatihan mentor (training), dan suplai literatur Islam Timur Tengah.
  • Munculnya Embrio Ikhwan (Tarbiyah): Pada pertengahan 1980-an, pengaruh buku-buku Hasan al-Banna dan Sayyid Qutb mulai masuk secara masif lewat jaringan usrah/halaqah kecil. Mereka belum menjadi faksi dominan yang memegang kendali struktural JS, tetapi mereka “bermain” sangat rapi di level bawah (menjadi mentor-mentor mentoring agama bagi mahasiswa baru UGM)

2. Tokoh-Tokoh Utama (Narasumber & Pembina)

Di tingkat universitas, ada beberapa nama besar yang menjadi magnet massa di Gelanggang dan menjadi patron bagi para aktivis JS:

  • Dr. M. Amien Rais: Beliau adalah dosen Fisipol UGM sekaligus pembina utama Jama’ah Shalahuddin. Di era 1986–1988, pidato dan ceramah Pak Amien di Gelanggang selalu dinanti karena keberaniannya melontarkan kritik sosial yang dibungkus dengan narasi “Tauhid Sosial”. [3]
  • Prof. Dr. HM Rasjidi: Mantan Menteri Agama pertama RI ini sering menjadi rujukan intelektual senior bagi anak-anak Gelanggang dalam membendung arus pemikiran sekularisme Barat.
  • [Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)] memuat gelombang kultural yang dahsyat di UGM melalui pementasan puisi dan teater “Lautan Jilbab”. [Cak Nun] adalah ikon anak muda Gelanggang yang menjembatani kelompok Islam taat dengan kelompok seni-budaya kampus.

3. Panggung Utama:

“Ramadhan ing Kampus”

“Ramadhan di Kampus” (RDK) & Shalahuddin Press

Aktivitas paling kentara di tingkat universitas yang melibatkan interaksi antar fakultas adalah:

  • Kepanitiaan RDK (Ramadhan di Kampus): Karena UGM belum memiliki Masjid Kampus yang megah seperti sekarang (Masjid Kampus baru dibangun akhir 1990-an), Gelanggang Mahasiswa disulap menjadi “Masjid Pusat” setiap bulan suci. Di sinilah ruang interaksi terbesar terjadi. Anak-anak HMI, PII, dan aktivis masjid fakultas (seperti dari Teknik, MIPA, Kedokteran, hingga Geografi) melebur menjadi panitia RDK.
  • Shalahuddin Press: Ini adalah lini penerbitan legendaris milik JS UGM yang sangat aktif pada dekade 1980-an. Mereka menerbitkan buku-buku Islam progresif dan kritis yang menjadi bacaan wajib mahasiswa saat itu. Jika Anda mengingat majalah kampus bertajuk “Gelanggang”, itu adalah produk pemikiran anak-anak Islam universitas masa itu.

Secara singkat, mereka yang bermain di tingkat universitas adalah para konseptor yang piawai bernegosiasi dengan birokrasi rektorat (saat itu di bawah Rektor Prof. Dr. Teuku Jacob) agar kegiatan Islam tidak dibubarkan oleh tentara/pemerintah, sekaligus tetap menjaga marwah perlawanan mahasiswa.

Note: Pada rentang tahun 1984–1989 penulis (saya) kuliah di Jurusan Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Di luar perkuliahan saya banyak berinteraksi dengan kawan-kawan di Keluarga Mahasiswa Teknik Geodesi KMTG), di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), di Kepengurusan Mushalla Sendowo Yogyakarta di Lingkungan tempat kost. Karena aktifitas saya di HMI sehingga mendorong saya untuk menjadi Ketua KMTG periode 1986-1988 melalui jalur pemilihan di kampus Teknik Geodesi.

Pembanding:
[1] [https://ukm.ugm.ac.id](https://ukm.ugm.ac.id/gelanggang-mahasiswa/)
[2] [https://js.ugm.ac.id](https://js.ugm.ac.id/2019/06/narasi-pola-pergerakan-islam-mahasiswa-kini-dan-masa-depan/)
[3] [https://www.baktinusa.id](https://www.baktinusa.id/serpihan-perjuangan-lembaga-dakwah-kampus-pertama-di-indonesia/)
[4] [https://id.wikipedia.org](https://id.wikipedia.org/wiki/Jama%27ah_Shalahuddin)
[5] [https://ekspresionline.com](https://ekspresionline.com/kelompok-islamis-di-kampus-negeri/)

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

Spam Protection by WP-SpamFree

Facebook Share X Twitter Share WhatsApp Share Telegram Share